Untuk kamar
mandi secara umum, menurut Iwan (2013), beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam perencanaan pembuatan kamar mandi adalah sebagai
berikut:
1.
Lantai
Kriteria
material lantai untuk kamar mandi adalah yang permukaannya tidak licin, kuat,
mudah dibersihkan, serta tahan terhadap bahan kimia. Pilihan bahannya bisa cat
lantai, keramik, batu alam (marmer, granit, dan sejenisnya), atau bahan vinil. Jenis
lantai kamar mandi sebaiknya bertekstur kasar dan berwarna terang sehingga jika
lantainya kotor bisa segera terlihat.
2.
Sistem Plumbing (Pemipaan)
Saluran pemipaan bagian luar harus mempunyai
sambungan yang kedap air dan pada saluran bagian dalam harus kedap air dan
kedap udara (Pijl, 1983: 110). Pemipaan harus diposisikan dengan sedemikian
rupa sehingga dapat mudah diakses jika diperlukan perbaikan terhadap pipa yang
bocor.
3.
Ventilasi yang Baik
Jika
kamar mandi tidak memiliki ventilasi udara yang memadai dapat menimbulkan kondensasi di dalam ruangan dan
akhirnya dapat menimbulkan jamur. Pencahayaan alami dan ventilasi yang tepat
sangat diperlukan, agar kamar mandi tidak pengap dan tidak lembab.
4.
Pintu
Bahan yang paling bagus untuk pintu kamar mandi antara lain adalah pintu
PVC, aluminium atau seng maupun lembaran pintu. Jika memakai bahan dari kayu
sebaiknya diberi lapisan pelindung atau laminasi.
5.
Tempat
Penyimpanan
Sebuah
lemari kecil di dalam kamar mandi dapat digunakan untuk menyimpan peralatan
mandi seperti handuk, shampo, sabun, dan produk pembersih lainnya agar tidak
berserakan dan terlihat rapi.
6.
Posisi Kloset yang Tepat
Tempatkanlah
kloset pada posisi terjauh dari pintu dan dekat dengan washtafel. Akan sangat menjengkelkan jika kloset terlalu jauh dari washtafel.
7.
Pencahayaan
Pemasangan
lampu kecil akan
membantu menuntun anda menuju kamar mandi saat malam hari. Dan untuk bola
lampu, gunakanlah lampu halogen.
8.
Material yang Tepat
Dalam membuat kamar mandi,
pemakaian material yang tahan air merupakan pilihan yang tepat. Keramik, ubin porselen serta granit sangat
tepat digunakan pada kamar mandi. Batu alam atau kayu jati juga dapat
digunakan. Untuk bahan perekat ubin atau keramik sebaiknya juga menggunakan
material yang tahan air (water proof).
9.
Ruang Gerak (Space)
Kamar mandi memerlukan ruang
gerak (space) terutama pada sekitar
dan di depan kloset, washtafel dan bak mandi. Ketika merancang kamar mandi juga
harus diperhatikan bahwa ada cukup ruang untuk membuka pintu. Adanya
ketersediaan ruang gerak (space) pada
tempat-tempat tersebut akan membuat kamar mandi anda menjadi nyaman untuk
digunakan.
Kemudian untuk kamar mandi bagi lansia,
kita harus memperhatikan hal-hal lain seperti:
Model kamar
mandi kering sangat dianjurkan untuk mengurangi risiko terpelesetnya para
lansia.
Sedangkan untuk
mengurangi kelembaban, perhatikan sistem sirkulasi udaranya. Bila udara tidak
berganti dengan maksimal pada sebuah ruang, maka alat exhaust fan dapat dipasang pada salah satu sisi dinding. Usaha lain
kurangi risiko kecelakaan yaitu dengan memberikan luasan ruang yang cukup untuk
bergerak tanpa terlalu sering terbentur perkakas yang ada di kamar mandi,
selain guna memudahkan pergerakan lansia yang pakai alat bantu jalan. Dan juga
pencahayaan yang mampu menerangi seluruh ruangan. Letakkan saklar untuk
menyalakan lampu di tempat yang dapat dijangkau dengan mudah.
Berdasarkan buku
Time-Saver Standards for Residential Development (Joseph De Chiara dalam Warta
Kota), besaran minimal yang diajurkan untuk kamar mandi lansia sekitar 2,25 m x
1,5 m bila kamar mandi pakai shower. Sedangkan yang menggunakan bathtub
sebaiknya memiliki luas minimal 2,55 m x 1,95 m.
Untuk lantai,
pastikan lantai kamar mandi tidak licin. Bisa juga diletakkan matras karet pada
seluruh permukaan lantai kamar mandi, tetapi pastikan posisinya tidak mudah
bergeser. Hindari permainan naik turunnya ketinggian lantai, hal itu akan
menimbulkan risiko lansia mudah tersandung. Kesatnya tekstur material yang
digunakan memudahkan kaki lansia menapak dengan baik, namun jangan sampai
terlalu kasar dan menghambat laju kursi roda atau alat bantu berjalan lainnya.
Kombinasikan
warna lembut dan terang yang mendominasi lantai dengan warna-warna cerah
seperti merah, oranye, dan kuning pada bagian tertentu sebagai penanda dan
pengarah sirkulasi karena kondisi penglihatan lansia kian menurun. Pilihlah
warna yang terang agar nuansanya mendukung penglihatan lansia. Sedangkan elemen
dinding dapat di-finishing material yang
tidak bertekstur kasar. (Wartakota, 2013).
Untuk mendukung aktivitas
lansia di dalam kamar mandi, sebaiknya dibuat pegangan pada area dinding kamar
mandi (railing besi), agar lansia yang menggunakan kamar
mandi tersebut dapat berpegangan pada railing.
Terutama di dekat kloset sehingga memudahkan mereka ketika hendak duduk ataupun
berdiri.
Selain itu,
instalasi listrik kamar mandi terpasang dengan benar dan tidak berdekatan
dengan sumber air. Kemudian pastikan pemanas air berfungsi sebagaimana mestinya
dan suhu air panas yang dihasilkan tidak
melebihi 55-60 O C. Saluran air panas di kamar mandi harus
terkontrol agar lansia tidak menggunakan air yang terlalu panas. (Mills, 1976:
4-6).
Kemudian Suryani (2012) menyatakan
bahwa “Gunakan sistem air otomatis seperti selang atau pancuran, baik untuk
membersihkan diri setelah buang air maupun saat mandi. Dengan demikian, lansia
tidak perlu bersusah payah mengangkat gayung, yang dapat mengakibatkan otot
terkilir. “